Setiap ayat, bahkan jumlah
ayat atau kata, dan nama surat merupakan kebijakan abadi.
Ia mempunyai beberapa lapisan pengertian, sesuai dengan tingkat ilmu pengetahuan
manusia yang membacanya.
Kita lihat, misalnya, salah
satu ayat dari Surat ar-Rahman, yang membahas tentang
air;
"Dia membiarkan
kedua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas
yang tidak dilampaui oleh masing-masing". (ar-Rahman [55]:
19-20)
Sedikit penafsir yang
mengartikan ini adalah tanah genting yang tidak terlihat. Penafsir lainnya
menyebutkan bahwa air tawar di sungai dan air asin di lautan bertemu namun tidak
saling melampaui karena perbedaan kepekatannya. Sampai di sini terjemahan belum
bermasalah. Keterangan lebih lanjut:
Fenomena menarik adalah apa yang diungkapkan oleh seorang ilmuwan Prancis Jacques Yves Cousteau yang meneliti berbagai lautan di dekat Selat Jibraltar,1 ditemukan bahwa pertemuan antara air dari Laut Mediteranian (Laut Tengah) dengan air dari Lautan Atlantik tidak bercampur, walaupun keduanya air asin. Salinitas yang berbeda menghasilkan "dam" yang tidak terlihat. Air Laut Tengah dengan salinitas di atas 36,5% dan temperatur sekitar 11,5 derajat Celsius, terisolasi di kedalaman 900 sampai 1100 meter. Sedangkan air yang berasal dari Lautan Atlantik mempunyai salinitas di bawah 35%, membungkus air Laut Tengah dengan temperatur di bawah 10 derajat Celsius.
Fenomena menarik adalah apa yang diungkapkan oleh seorang ilmuwan Prancis Jacques Yves Cousteau yang meneliti berbagai lautan di dekat Selat Jibraltar,1 ditemukan bahwa pertemuan antara air dari Laut Mediteranian (Laut Tengah) dengan air dari Lautan Atlantik tidak bercampur, walaupun keduanya air asin. Salinitas yang berbeda menghasilkan "dam" yang tidak terlihat. Air Laut Tengah dengan salinitas di atas 36,5% dan temperatur sekitar 11,5 derajat Celsius, terisolasi di kedalaman 900 sampai 1100 meter. Sedangkan air yang berasal dari Lautan Atlantik mempunyai salinitas di bawah 35%, membungkus air Laut Tengah dengan temperatur di bawah 10 derajat Celsius.
Berikutnya adalah fenomena
menarik tentang pembentukan mutiara.
"Dari keduanya keluar mutiara dan marjan" (ar-Rahman
55 : 22)
Para penerjemah dua puluh
tahun yang lalu, dengan satu atau dua pengecualian, menerjemahkan "marjan"
dengan "batu koral". Padahal mayoritas ahli tafsir mengartikan dengan
marjan, yang mengandung mutiara kecil yang lebih berkilau. Tetapi ahli
tafsir modern, misalnya Sayyid Quthb, berbicara tentang "batu koral". Disadari
bahwa banyak ahli tafsir yang menghadapi persoalan dengan ayat ini. Menurut
pengetahuan mereka pada waktu itu, mutiara hanya datang dari air laut. Padahal
ayat ini barangkali menjelaskan bahwa mutiara bisa terbentuk baik di dalam air
laut maupun air tawar. Bagaimana bisa? Abu Ubaidah, seorang penulis terdahulu,
sangat yakin bahwa mutiara hanya datang dari air laut, sehingga ia mencoba
berkelit untuk menafsirkan ayat tersebut dengan sesuatu yang lain. Maka ia
menulis, "Mutiara hanya datang dari salah satu nya".
Tetapi kini telah diketahui
bahwa mutiara bisa terbentuk di dalam air tawar. Encyclopedia Britannica,
Micropaedia 1977, menulis bahwa di sungai-sungai rimba Bavaria (Eropa)
mutiara .libudidayakan. Bahkan budidaya mutiara air tawar di Cina telah dikenal sejak sebelum tahun 1000 SM.
Dengan demikian, pernyataan
al-Qur'an dalam surat ini sesuai dengan arti harfiahnya, tanpa memerlukan penafsiran yang
dipaksakan.
Apakah pembaca akan berhenti
sampai di sini?
Kita beralih ke ayat
al-Qur'an yang pembahasannya memerlukan pengetahuan astrofisika, gabungan
astronomi, fisika dan matematika, yaitu Surat an-Nur atau yang berarti
cahaya.
"Allah (pemberi)
cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumynmaan cahaya Allah adalah seperti sebuah
lubang yang tak tembus (misykat), yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu
didalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti
mutiara, yang dinyalakan dengan pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon
zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan dan tidak pula di
sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walauyun
tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing
kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(an-Nur 24 : 35).
Esensi ayat ini adalah bahwa Tuhan adalah (satu-satunya)
pemberi cahaya di alam semesta tanpa sentuhan api. Namun menyangkut perumpamaan,
mufasir klasik menghadapi kesulitan untuk menjelaskan lebih
rinci.
Dengan beberapa pengecualian mereka akan menjelaskan bahwa
misykat , atau suatu lubang yang tidak dapat ditembus, adalah lubang di
rumah-rumah untuk tempat lampu obor, yang ada di dinding rumah. Sedangkan pohon
(zaitun) yang dimaksud adalah pohon (zaitun) yang tumbuh di bukit-bukit,
sehingga sinar matahari dapat menyinari, baik pada saat matahari terbit maupun
matahari terbenam.
Mufasir modern, seperti Malik Ben Nabi, menjelaskan bahwa
misykat adalah lampu bohlam:
Pohon yang dimaksud
adalah kawat wolfram yang berpijar karena efek listrik tanpa disentuh api,
dibungkus gelas kaca, untuk memantulkan seluruh sinarnya ke segala arah sehingga
dapat menerangi seluruh ruangan. Lampu bohlam adalah sekat yang tak dapat
ditembus, karena hampa udara, tidak ada oksigen di
sana.
Tetapi, dalam studi yang lebih mendalam tentang cahaya
di langit oleh para astrofisikawan, misalnya Mohamed Asadi2 dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything,
perumpamaan ayat tersebut lebih mendekati kepada fenomena quasar dan
gravitasi efek lensa yang menghasilkan cahaya di atas cahaya. Quasar
atau Quasi Stellar adalah objek di langit yang ditemukan pertama kalinya
pada tahun 1963. Mereka mewakili objek yang paling terang di alam semesta, jauh
lebih terang dari cahaya matahari atau bintang. Para astronom menemukan bahwa
objek "seperti bintang' ini terletak miliaran tahun cahaya dari bumi. Objek ini
tentunya mempunyai energi yang besarnya sangat luar biasa supaya tetap terlihat
dari sini. Energi mereka berasal dari "pusat lubang hitam yang sangat masif".
Karakter pertama dari ayat ini yaitu misykat adalah "lubang hitam", sedangkan
karakter kedua yaitu "pelita dalam kaca" adalah galaksi
yang menghasilkan efek gravitasi lensa seperti quasar (pelita) yang
terbungkus oleh kaca (gelas). Coba
simak keterangan quasar oleh astronom NASA.3
"Efek gravitasi pada
galaksi, quasar yang jauh, serupa dengan efek lensa sebuah gelas minum
yang memantulkan sinar lampu jalan yang menciptakan
berbagai image (lapisan cahaya atas
cahaya)"
Energi
quasar yang berasal (dicatu) dari
lubang hitam, terjadi ketika "bintang-bintang dan gas" dari galaksi terhisap di
dalamnya. Karakter lainnya yang disebut "pohon" oleh al-Qur'an adalah sebutan
yang tidak lazim oleh para astronom yang menggambarkan galaksi sebagai
"pohon-pohon" yang terdiri dari bintang-bintang. Lihat saja istilah diagram
HertzprungRussel, dalam buku Timothy Ferris, The Whole Shebang, 1997.
Barangkali, karakter lainnya
yang menarik dari ayat di atas adalah pernyataan "diterangi tanpa tersentuh oleh
api", suatu fenomena fusi nuklir yang menghasilkan cahaya yang sangat terang, di
mana di ruang angkasa nyaris tidak ada oksigen untuk pembakaran.
Bintang-bintang memulai hidupnya dengan unsur kimia yang paling ringan, yakni
hidrogen. Gas berkontraksi, karena gravitasi, memanas; atom hidrogen
bertumbukan dan membentuk helium, unsur yang lebih berat, ketika mengeluarkan
energinya. Energi inilah yang membuat objek "bintang- bintang" bersinar tanpa
"disentuh api', energi ini juga yang memelihara keseimbangan posisi
bintang-bintang di alam semesta. Sepanjang pengetahuan manusia yang ada
sekarang, fenomena quasar inilah yang paling tepat untuk menggambarkan ayat di
atas. Terlebih lagi perumpamaan dalam ayat tersebut:
"seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara". Bahkan aslinya lebih
terang dari sinar bintang, dan memang seperti "mutiara" bila kita lihat dari
foto-foto NASA yang ada, gemerlapan, sangat menawan.
Dengan demikian, terjemahan
bebas ayat 35 Surat an-Nur dari sisi
sains adalah:
"Allah (pemberi) cahaya
(kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah, adalah
seperti sebuah lubang (hitam) yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar (quasar). Pelita
itu di dalam kaca (dan) kaca (efek
gravitasi lensa dari galaksi) itu seakanakan bintang
(yang bercahaya)
seperti mutiara, yang dinyalakan
dengan pohon (galaksi yang dicatu oleh lubang hitam) yang banyak
berkahnya, (yaitu) pohon
(galaksi) yang tumbuh tidak di
sebelah timur (sesuatu) dan
tidak pula di
sebelah barat (nya), yang minyaknya
(fusi nuklir) hampir-hampir menerangi,
walaupun tidak disentuh api. Cahaya di
atas cahaya (efek gravitasi lensa), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki,
dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan
bagi manusia,dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar