Secara ringkas, umur elemen
kimia dapat diperkirakan berdasarkan uji radio aktif terhadap atom tersebut. Dan
umumnya dapat ditentukan dengan menggunakan uji contoh batubatuan, yaitu
dengan mengukur perubahan elemen berat seperti Rubidium Rb-87. Bila uji Rubidium
ini diterapkan atas batuan yang tertua di bumi akan didapatkan bahwa batuan
tertua berumur 3,8 miliar tahun. Jika diterapkan atas batuan tertua dari meteor
akan didapatkan angka 4,56 miliar tahun. Kesimpulan ini membuktikan bahwa tata
surya kita berumur sekitar 4,6 miliar tahun, dengan tingkat kesalahan 100 juta
tahun. Sedikit berbeda, bila metode ini digunakan untuk mengukur gas di alam
semesta maka akan menyebabkan tingkat variasi yang lebih lebar. Ilmuwan cukup
puas mengetahui umur alam semesta sejak Dentuman Besar dengan perhitungan
elemen kimia yaitu antara 11-18 miliar tahun.
Mohamed Asadi dalam bukunya
The Grand Unifying Theory of
Everything mengatakan bahwa umur alam semesta, berdasarkan penyelidikannya
terhadap bintang-bintang tertua, adalah antara 17 sampai 20 miliar tahun.
Sedangkan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France menyatakan bahwa
umur alam semesta kira-kira 18 miliar tahun.5
Dalam al-Qur'an ada dua ayat
yang mengindikasikan perhitungan alam semesta selain makna relativitas waktu,
yaitu Surat as-Sajdah (32:5) dan
al-Ma'arij
(70:4).
"Malaikat-malaikat dan
Jibril naik (menghadap) keyada Tuhan
dalam sehari yang kadarnya lima puluh
ribu tahun" (al-Ma'arij 70 : 4)
Kita dapat mencatat bahwa
al-Qur'an tidak mengatakan "50.000 tahun" waktu bumi. Karena waktu ini adalah
waktu relatif di suatu tempat di langit, di mana satu hari sama dengan 1000
tahun waktu bumi. Hari relatif tersebut merupakan umur alam semesta di mana
sistem tata surya manusia (kita) berada.
Mari kita konversikan waktu
relatif alam semesta:
50.000 x 365,2422 =
18.262.110
Satu hari relatif di "satu
tempat" di alam semesta, di tempat malaikat melaporkan urusannya, sama dengan
1000 tahun di bumi:
18.262.110 x 1000 =
18.262.211.000 tahun atau 18,26 miliar tahun.
Dengan demikian, umur alam
semesta relatif adalah 18,26 miliar tahun. Hasilnya hampir sama dengan
perhitungan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France tersebut di
atas.
NASA memperkirakan umur alam
semesta antara 12-18 miliar tahun berdasarkan pengukuran seberapa cepat alam
semesta kita ini ekspansi setelah terjadinya "Dentuman Besar" 6
Dr. Marshall Joy dan Dr.
John Carlstrom dari Universitas Chicago (tim NASA) telah mampu mengatasi masalah
pengukuran kecepatan ekspansi alam semesta dengan teknik terbaru, yaitu
menggunakan radio interferometer untuk menyelidiki dan mengukur fluktuasi
Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR). Dengan demikian, umur alam
semesta dapat diperkirakan. Sedangkan tim NASA lainnya memperkirakan umur alam
semesta antara 8-12 miliar tahun berdasarkan pengukuran jarak galaksi "M100"
dengan teleskop ruang angkasa Hubble. Galaksi tersebut diperkirakan berjarak 56
juta tahun cahaya dari bumi. Namun demikian, pengukuran umur alam semesta ini
menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin alam semesta umurnya lebih muda,
padahal salah satu bintang di Bima Sakti mungkin umurnya jauh lebih tua dari
perkiraan tersebut?7
Metonic Cycle
Pembaca telah mendapatkan
pengetahuan bahwa kata-kata dalam al-Qur'an mempunyai makna yang bertingkat.
Beberapa kata mempunyai arti langsung, tetapi yang lain tidak, atau belum tentu.
Misalnya saja, kata yang berarti bulan adalah syahr, dalam al-Qur'an
disebutkan sebanyak 12 kali. Ini sesuai dengan 12 bulan dalam 1 tahun. Sedangkan
kata yang berarti hari adalah yaum, yang disebutkan 365 kali dalam al-Qui
an. Ini juga sesuai bahwa 1 tahun rata-rata sama dengan 365 hari. Tetapi kata
yang berarti tahun, yaitu sanah disebutkan dalam al-Qur'an sebanyak 19 kali!
Bagaimana kita memahaminya?
Terima kasih kepada cabang
pengetahuan astronomi. Angka 19 atau 19 tahun adalah satu periode di mana
posisi relatif bumi dan bulan kembali ke posisi semula secara berulang setelah
19 tahun kemudian. Siklus ini ditemukan oleh Meton orang Yunani dan disebut
Metonic cycle.
"Jika sekarang tanggal 20
Maret tahun 2000, dan bulan purnama terlihat pada posisi dekat bintang Virgo,
kapan kita dapat melihat bulan purnama pada posisi yang
sama?"
"Jawabnya bukan bulan depan
atau tahun depan, tetapi tanggal 20 Maret tahun 2019, 19 tahun
kemudian."
Mengapa 19 tahun? Karena
fase Tahun Matahari dan Tahun Bulan akan bertemu tepat pada siklus yang ke-19,
di mana 235 bulan Kalender Bulan tepat sama dengan siklus 19 tahun berdasarkan
Kalender Matahari. (29,53 hari x 235 kira-kira sama dengan 365,24 hari x 19).
Meton dari Athena pada tahun 440 SM mengetahui bahwa 235 bulan berdasarkan
Kalender Bulan sama dengan
19 tahun Kalender Matahari. Oleh karena itu, siklus ini dikenal dengan siklus
Meton8, dan merupakan basis perhitungan kalender di Yunani
sampai Kalender Julius Caesar diperkenalkan pada tahun 46 SM. Bagi kaum Muslim,
menggunakan Kalender Bulan karena sesuai dengan kebutuhan untuk perhitungan
bulan Ramadhan, bulan Haji, dan peristiwa-peristiwa Islam lainnya. Namun
sebelumnya, Kalender Bulan ini dipergunakan juga oleh kaum Yahudi, bangsa
Babilonia, dan Cina.
Dengan demikian, jumlah
penyebutan kata-kata tertentu dalam al-Qur'an mempunyai,makna yang sangat dalam,
dan baru dapat diketahui oleh pembaca jika ia mempunyai pengetahuan dan sains
yang cukup luas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar